23 Februari, 2008

about penulis (SiLEnT LovE )



Fairuz Fadillah Andromeda

yang akrab disapa Fay, Feida, atau Mochy ini, lahir di Jakarta, 19 Oktober 1988. Anak kedua dari tiga bersaudara ini, menempuh pendidikan di SD Negeri 01 Jakarta, lalu melanjutkan di SMP Negeri 119 Jakarta, dan menyelesaikan masa putih abu-abunya yang indah dan tak terlupakan di SMU Negeri 1 Jakarta atau yang biasa disebut Boedoet. Saat ini sedang melanjutkan studi program diplomanya, jurusan sastra Jerman, Fakultas llmu Budaya, Universitas Indonesia.






halaman 11

Sahabat (3)

Persahabatan adalah pohon rindang di padang pasir
Yang memberikan keteduhan bagi siapa yang berada di dalamnya
Tak seorang pun menyadari
Tak seorang pun menghargai
Sampai suatu ketika perjalanan waktu menyingkirkan pohon itu
Baru kemudian orang merasa ada yang hilang dari hidupnya
Mereka kemudian menangis dan meratap
“Oh Tuhan, kembalikanlah pohonku”
Tapi ratapan mereka tak ubahnya serigala ingin bersayap kemudian terbang
Mengapa..mengapa semuanya selalu trjadi diakhir
Mengapa sesuatu baru terasa indah dan berarti
Ketika semuanya telah tiada



Sajak

Sajak-sajak yang kulantunkan
Hanya ingin kuungkap
Dan kuingin kau dengar alunan sajakku
Walau tak pantas ‘tuk kuungkap
Tapi batinku meronta
Untuk melontarkan sajak-sajak
Yang ada dalam hati ini
Karena hanya sajak ini
Yang bisa kuungkapkan
Pada dirimu..


Malaikat terbang tanpa sayap
Dari hamparan rumput ilalang
Dan senandungnya kidung
Meninggalkan setitik noda
Dalam beningnya mata
Kucoba sisakan tawa
Tapi tak bisa
Aku pun terbang melintas batas
Dalam pekatnya keputusasaan



Engkau laksana bintang
Di tengah gelapnya malam
Yang menyinari jiwa yang sunyi
Isak tangismu takkan pernah terdengar
Sekelilingmu yang masih saja sepi
Karena kau memang sendiri
Aneh memang rasanya
Nun jauh di bawah sana
Di setiap sudut bumi
Ada saja manusia yang masih mengadu
Rasa sepi dan kehilangan padamu



Aku adalah bintang

Aku merasa diriku seperti bintang
Indah bersinar di malam hari
Terlihat megah bahagia
Tempat semua orang mengadukan rasa sepinya
Tapi mereka tak pernah tahu
Bintang tetaplah sebuah bintang
Yang intensitas cahayanya terlalu kecil dibandingkan matahari
Bintang yang tetap punya rasa sepi
Walaupun berada bersama ribuan bintang lain
Karena bintang hanya ada di malam yang pekat
Sebuah benda yang selalu lari dari kenyataan
Karena hanya berani muncul dalam kegelapan

halaman 10

Jauh di Sana

Kulihat dari kejauhan
Kau tersenyum gembira
Tak kau pikirkan
Orang yang dari kejauhan
Memperhatikanmu

Jauh di sini, di hatiku
Terpana melihat
Senyum yang terpancar
Dalam dirimu
Hanya dari kejauhan ini
Kudapat memuja dan mencintamu



Refleksi

Tak sedikit pun terlintas
Dalam memori yang coba aku buka
Rasa sakit yang teramat sakit
Ketika aku jatuh dari tangga indah
Yang pernah aku khayalkan
Ketika aku terbangun dari mimpi yang indah
Yang terlampau jauh dari kenyataan
Saat aku berpaling ke arah cermin tua yang buram
Aku terperangah di hadapan bayanganku sendiri
Yang memandangku penuh rasa iba
Tapi ketika aku bertanya
“Siapa yang salah, jika aku mencintainya?”
Kau terdiam, kemudian menjawab
“Hanya kau yang tahu”



Silent Love

It’s really hard to see you
With someone else
It really hurts
When I see you laugh
Because of someone else
And what am I gonna do?
Nothing!!
I’ll keep silent here
No matter how I love you



Aku mohon padamu
Jangan adukan aku kepada sepi
Dan tetaplah berdiri di tepi
Awasi aku dari mimpi
Jika aku menginjak batu
Angkat aku dengan sayapmu
Jika aku memegang api
Hembuslah aku dengan napasmu
Jika aku melihat nista
Butakan aku oleh tiraimu
Jika aku mendengar hampa
Dekaplah aku dalam pelukmu
Sampai nanti waktu berlalu
Aku akan menujumu