18 April, 2011

Tuhan, cara mu sungguh unik

Diawali disiang hari, dimana saya akan melakukan perjalanan yang cukup jauh menggunakan sepeda motor dari jakarta menuju bandung seorang diri. Dengan rasa semangat yang sangat besar, saya tidak menghiraukan segala resiko yang nantinya saya alami. Perjalan menempuh waktu 7 jam untuk mencapai ketempat tujuan dibandung.

Sesampainya di bandung, dalam keadaan yang sangat letih saat sampai ditujuan.

Keesokan harinya, sayapun kembali ke jakarta dan harus mengingatkan saya kepada perjalanan yang cukup lama beserta menanggung beban motor yang cukup berat seperti kerbau. hahahahaha.

Namun saya mendapatkan berita mendadak, untuk sesuatu yang menjadi tujuan saya kebandung tidaklah tersampaikan sperti yang saya harapkan, ada sedikit perasaan kecewa, namun saya mencobanya dengan pemikiran positif dan percaya Allah memberikan keputusan yang terbaik atas perjalanan itu, mungkin saja jika saya paksakan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan tersebut.

Okey baiklah, aku percaya kedapa allah dan memulai melanjutkan perjalanan pulang menuju ke jakarta dengan perasaan sedikit kecewa dan rasa letih karena istrahat yang kurang dan kondisi yang kurang cukup baik pada saat itu.

Hujan cukup deras disertai dengan angin yang cukup kencang dalam perjalanan saya menuju jakarta, membuat perjalanan saya terhenti beberapa kali karena saya tidak sanggup melanjutkan perjalanan dengan keadaan seperti itu. Mengingat waktu yang semakin sempit dan perjalanan yang masih jauh, saya tetap paksakan berjalan menuju jakarta mengenakan jas hujan(karena saya tidak ingin memiliki jas hujan).
Hujan deras pun mengiringi saya dari daerah cipatat(bandung) sampai cipanas(puncak), dan saya pun mengigil dalam kedinginan.

Sesampainya saya di puncak pass saya hentikan kendaraan saya karena tangan saya yang sudah menciut dan bibir saya yang mulai membiru. saya berhenti di sebuah kedai kopi, persis tugu perbatasan puncak.

Saya pun memesan makanan, untuk menghangatkan badan saya. Terlihat seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.
"Abang mau beli kue?"
Katanya sambil tersenyum. Tangan nya segera menyingkapkan daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
"Tidak dik....Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas, Dia pun berlalu.
Begitu pesanan tiba, saya segera menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pengunjung lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dan berlalu begitu saja.
"Abang sudang makan, tak mau beli kue saya?" katanya tenang ketika menghampiri meja saya.
"Abang baru selesai makan dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut.
Dia pergi, tapi cuma disekitar kedai kopi. Sampai disitu dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap orang yang berlalu lalang ditawarinya....
"Tak mau beli kue saya bang....mba....pak...kak...atau ibu." Molek budi bahasanya.
Pemilik kedai kopi itu pun tak melarang dia keluar masuk ke warung kopinya menemui pengunjung.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke motor. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama.

Saya mengenakan jaket dan peralatan tempur kuda besi saya. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi motor. Dia menghadiahkan sebuah senyuman.
Saya membuka kaca helm. Membalas senyumannya.
"Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyingkap daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- saya berikan padanya.
"Ambil ini dik! Abang sedekah.. tak usah abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin motor saya hidupkan.. Saya memundurkan motor. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan uang Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua matanya.

Saya terkejut ; saya hentikan motor, dan memanggil anak itu kembali.
"Kenapa Bang mau beli kue kah?" tanyannya.
"Kenapa adik berikan uang abang tadi pada pengemis itu? uang itu abang berikan buat adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Bang, saya tak bisa ambil uang itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis.
Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!" katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak berkata, saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk, Lidah saya kelu mau berkata."
"Rp 25.000,- saja bang.." Selepas itu dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam kantong plastik, saya ulurkan Rp25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi.
Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan.

Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya...

Mereka yang susah, namun mau berjuang untuk hidup.. sedangkan kita yang kecewa atas sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, hingga lupa untuk bersyukur dan tidak mau berjuang untuk segala sesuatunya..

"Tuhan, cara mu sungguh unik untuk menyadarkan seseorang agar menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya"

Pertanyaan atas rasa kecewa yang sempat saya rasakan, engkau telah menjawabnya melalui seorang anak kecil yang mengajarkan saya, untuk tetap tabah dan berusaha keras untuk hidup ini. Untuk apa saya kecewa atas apa yang sudah saya lakukan untuk semua ini, seharusnya saya bangga karena saya bisa berusaha dan melakukan sesuatu ,yang melebihi batas kemampuan yang saya miliki.

Terima kasih TUHAN.

1 komentar:

3 Macan mengatakan...

keren nyukssssssssss,,
smoga,,kita smua bisa jd hamba allah yg slalu bersyukur lah ,,( amieen)