Tampilkan postingan dengan label SiLEnT LovE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SiLEnT LovE. Tampilkan semua postingan

23 Februari, 2008

about penulis (SiLEnT LovE )



Fairuz Fadillah Andromeda

yang akrab disapa Fay, Feida, atau Mochy ini, lahir di Jakarta, 19 Oktober 1988. Anak kedua dari tiga bersaudara ini, menempuh pendidikan di SD Negeri 01 Jakarta, lalu melanjutkan di SMP Negeri 119 Jakarta, dan menyelesaikan masa putih abu-abunya yang indah dan tak terlupakan di SMU Negeri 1 Jakarta atau yang biasa disebut Boedoet. Saat ini sedang melanjutkan studi program diplomanya, jurusan sastra Jerman, Fakultas llmu Budaya, Universitas Indonesia.






halaman 11

Sahabat (3)

Persahabatan adalah pohon rindang di padang pasir
Yang memberikan keteduhan bagi siapa yang berada di dalamnya
Tak seorang pun menyadari
Tak seorang pun menghargai
Sampai suatu ketika perjalanan waktu menyingkirkan pohon itu
Baru kemudian orang merasa ada yang hilang dari hidupnya
Mereka kemudian menangis dan meratap
“Oh Tuhan, kembalikanlah pohonku”
Tapi ratapan mereka tak ubahnya serigala ingin bersayap kemudian terbang
Mengapa..mengapa semuanya selalu trjadi diakhir
Mengapa sesuatu baru terasa indah dan berarti
Ketika semuanya telah tiada



Sajak

Sajak-sajak yang kulantunkan
Hanya ingin kuungkap
Dan kuingin kau dengar alunan sajakku
Walau tak pantas ‘tuk kuungkap
Tapi batinku meronta
Untuk melontarkan sajak-sajak
Yang ada dalam hati ini
Karena hanya sajak ini
Yang bisa kuungkapkan
Pada dirimu..


Malaikat terbang tanpa sayap
Dari hamparan rumput ilalang
Dan senandungnya kidung
Meninggalkan setitik noda
Dalam beningnya mata
Kucoba sisakan tawa
Tapi tak bisa
Aku pun terbang melintas batas
Dalam pekatnya keputusasaan



Engkau laksana bintang
Di tengah gelapnya malam
Yang menyinari jiwa yang sunyi
Isak tangismu takkan pernah terdengar
Sekelilingmu yang masih saja sepi
Karena kau memang sendiri
Aneh memang rasanya
Nun jauh di bawah sana
Di setiap sudut bumi
Ada saja manusia yang masih mengadu
Rasa sepi dan kehilangan padamu



Aku adalah bintang

Aku merasa diriku seperti bintang
Indah bersinar di malam hari
Terlihat megah bahagia
Tempat semua orang mengadukan rasa sepinya
Tapi mereka tak pernah tahu
Bintang tetaplah sebuah bintang
Yang intensitas cahayanya terlalu kecil dibandingkan matahari
Bintang yang tetap punya rasa sepi
Walaupun berada bersama ribuan bintang lain
Karena bintang hanya ada di malam yang pekat
Sebuah benda yang selalu lari dari kenyataan
Karena hanya berani muncul dalam kegelapan

halaman 10

Jauh di Sana

Kulihat dari kejauhan
Kau tersenyum gembira
Tak kau pikirkan
Orang yang dari kejauhan
Memperhatikanmu

Jauh di sini, di hatiku
Terpana melihat
Senyum yang terpancar
Dalam dirimu
Hanya dari kejauhan ini
Kudapat memuja dan mencintamu



Refleksi

Tak sedikit pun terlintas
Dalam memori yang coba aku buka
Rasa sakit yang teramat sakit
Ketika aku jatuh dari tangga indah
Yang pernah aku khayalkan
Ketika aku terbangun dari mimpi yang indah
Yang terlampau jauh dari kenyataan
Saat aku berpaling ke arah cermin tua yang buram
Aku terperangah di hadapan bayanganku sendiri
Yang memandangku penuh rasa iba
Tapi ketika aku bertanya
“Siapa yang salah, jika aku mencintainya?”
Kau terdiam, kemudian menjawab
“Hanya kau yang tahu”



Silent Love

It’s really hard to see you
With someone else
It really hurts
When I see you laugh
Because of someone else
And what am I gonna do?
Nothing!!
I’ll keep silent here
No matter how I love you



Aku mohon padamu
Jangan adukan aku kepada sepi
Dan tetaplah berdiri di tepi
Awasi aku dari mimpi
Jika aku menginjak batu
Angkat aku dengan sayapmu
Jika aku memegang api
Hembuslah aku dengan napasmu
Jika aku melihat nista
Butakan aku oleh tiraimu
Jika aku mendengar hampa
Dekaplah aku dalam pelukmu
Sampai nanti waktu berlalu
Aku akan menujumu

halaman 9

Jika musim berganti
Akankah matahari merubah arah terbitnya
Jika itu aku
Aku takkan berubah

Jika musim berganti
Akankah rembulan berhenti menyinari
Jika itu aku
Aku akan terus menyinarimu
Hingga cahayaku meredup dan padam



Cinta tak pernah abadi
Seperti burung yang akan selalu terbang
Mencari tempat tertinggi
Untuk membuat sarang senyaman mungkin untuknya
Akankah cinta seperti air
Yang selalu mencari kerendahan
Kerendahan hati, kerendahan sudi
Yang akan selalu mengendapkan pasir yang ternyata emas



Di antara cinta dan benci
Itulah yang saat ini menyelimuti hati
Antara rindu dan dendam
Entah mana yang akan padam



Seseorang yang Mencintaimu

Cobalah kau pejamkan matamu
Kau akan dapat melihatku
Siapakah aku yang kau lihat dari kegelapan itu
Tapi semua tak seperti bayanganmu
Tapi aku telah meninggalkan pesan
Di kegelapan itu
Suatu saat kau akan tahu
Apa isi pesan itu
Siapa pun aku
Kau tak perlu tahu
Aku hanyalah sesosok peri kecil
Yang selalu setia di sisimu
Dan mencintaimu dengan kebisuan



Bintang

Malam gelap
Hanya kau yang terangi
Kelap kelip menerjang angin malam
Cahayamu selalu temani mimpiku
Malammu penuh bintang
Hatiku dalam terang
Sang bintang tersenyum
Saat puing kecil terlontar dari daun jendela
Gembira terasa saat
Sang bintang tergoda senyum


Menusuk Jiwa

Hampa..
Kosong..
Galau..
Sepi..
Dan sendiri..
Itu teriakan batinku
Jauh darimu bagai terdampar di gurun gersang
Cinta tulusku harap kan kau balas
Ku akan selalu melihatmu dari sini
Dari kejauhan dan dari kegelapan



Ini bukan tentang cinta
Ini bukan tentang rasa
Ini bukan tentang persahabatan
Ini hanyalah tentang kau dan aku

halaman 8

Tuhan pun tersenyum
Saat menciptakanmu
Mungkinkah Tuhan juga akan tersenyum
Untuk menyatukan kita?



Cinta tak selalu harus ada di depan atau di samping
Terkadang cinta menuntut kita ada di belakang
Berusaha mendorong, mengayomi tanpa terlihat
Karena hakekat cinta sejati adalah
Memberi tanpa harus menerima
Cinta tak harus selalu dekat dengan mata
Terkadang menjadi jauh lebih bermakna daripada dekat
Kebisuan juga bukan akhir dari sebuah cinta
Karena cinta bukan sesuatu yang terucap
Kemarahan juga bukan awal dari sebuah kebencian
Egolah yang menyebabkan percikan api cinta sesaat itu
Karena cinta terkadang juga ingin memiliki
Tuhan..andai ia tahu..



Semalam kucoba tuk merangkai kata
Tapi aku tak bisa
Pagi datang, aku membayangkanmu
Tapi itu hanya buaian pagi
Siang ini aku bertemu denganmu
Tapi aku tak mampu memandangmu
Sore hari membuat kita harus berpisah
Tapi rasanya berat melepasmu
Dan malam kembali datang
Tapi aku masih tak tahu harus berbuat apa



Aku terdampar disini
Di lembah yang bernama “cinta”
Sunyi sepi di antara semak
Antara ingin hidup atau mati saja
Aku ingin terbang
Tapi sayapku patah
Aku ingin berlari
Tapi kakiku pincang
Aku ingin teriak
Tapi untuk apa?
Untuk menunjukkan kesombonganku?
Atau aku harus menunggu
Seseorang yang telah kau janjikan
Untuk melengkapi hidupku yang makin rapuh
Kebodohan dan Duka



Aku berjalan bersama kebodohan
Dia terus bercerita sepanjang jalan
Namun tidak ada pelajaran berarti darinya
Meski begitu banyak yang dia katakan



Aku berjalan bersama duka
Tak ada tutur sepatah kata
Tetapi ada hal-hal yang kupelajari dari situ
Tatkala duka berjalan bersamaku


Sahabat (2)

Adakah kau sadar akan sesuatu
Sesuatu yang membuat harimu tiada jemu
Sesuatu yang selalu hadir untukmu
Ketika kau memerlukan sandaran tuk mengadu
Tidakkah dirimu menyadari akan penting hadirnya sesuatu itu
Mereka akan melakukan segala apapun itu
Agar kau dapat terus tersenyum tersipu
Agar kau tak merasakan pilu
Mereka selalu menjadi penyeka tangismu
Mereka selalu menjadi malaikat kecil yang menjagamu
Tapi apakah kau akan mengingat pengorbanan mereka
Yang selalu tulus melengkapi kisah hidupmu
Adakah suatu hari nanti kau akan mengingat kisah indah itu
Kau akan menyadari betapa indahnya kisah itu
Ketika mereka telah hilang dari hari-harimu



Selamat Jalan Cinta

Tersentak hatiku
Hampa terasa sanubariku
Seakan terhenti jalannya waktu
Terdiam terhanyut ketika kudengar kabar tentangmu
Terhenyak terpaku tak kuasa menerima kenyataan
Hati meronta tak percaya kau tinggalkanku
Kuharap ini hanya mimpi semu

Untaian bunga terhampar terjajar di kediamanmu
Terlihat sosok kaku, pucat lemas ketika kuhampiri pembaringanmu
Walau pedih terasa, aku rela melepasmu
Selamat jalan cinta, semoga kau temukan kedamaian di sana

halaman 7

Ketika cinta berganti murka
Hanya duka, tak ada tawa
Seperti hujan, serupa badai

Ketika cinta berganti murka
Hanya angkara, tak ada canda
Seperti guntur, mengoyak hati

Dan akhirnya cinta pun sirna
Tak ada hidup
Hanya seonggok hati yang mati



Ketika

Sejak pertama kulihat tatapan matanya
Sejak pertama kurasakan aura yang memancarkan pesona
Sejak itulah kurasakan hadirnya suatu rasa
Tapi aku tak mengerti apakah itu
Saat ku bertanya pada diriku apakah itu cinta
Aku tak berani mengakuinya
Ketika ku yakin itu cinta
Ketika itu pula aku menyadari
Bahwa aku telah kehilangannya



Kepastian

Aku lelah menyusuri lorong tak berujung
Aku lelah menyelami lautan tak berdasar
Aku lelah menjelajahi daratan tak bertepi
Aku lelah mendaki gunung tak berpuncak
Aku lelah mengarungi sungai tak berhilir
Aku lelah dengan ketidakpastian
Adakah sesuatu yang pasti di dunia ini?



Sebuah Pencarian

Ku cari mata air
Yang ku dapat air mata
Ku cari cinta suci
Yang ku dapat pengkhianatan tanpa henti
Ku cari curahan hati
Yang ku dapat pembual sejati
Akankah kudapati keinginanku suatu hari nanti??



Seiring waktu cintamu akan terkikis oleh waktu
Seiring waktu kau akan melupakanku
Seiring waktu kau akan teringat kenangan bersamaku
Seiring waktu kau akan menyesali keputusanmu
Seiring waktu kau akan memohon untuk kembali padaku
Dan seiring waktu hatiku semakin yakin akan hal itu


Aku akan selalu ada untukmu
Seperti udara yang selalu hadir dalam setiap hembus nafasmu
Aku akan melengkapi detik hidupmu
Seperti bintang melengkapi keindahan angkasa dimalam semu
Aku akan menerangi hidupmu
Seperti mentari yang setia menerangi kegelapanmu
Aku akan meneduhkanmu
Seperti awan meneduhkan terik harimu



Ia terlihat seperti malaikat hatiku
Yang selalu ada untukku
Kapanpun aku butuh
Tapi sebenarnya..
Ia hanyalah setan kecil
Yang menebarkan benih dosa
Dan menggodaku disaat aku butuh

halaman 6

Aku berjalan dalam kegelapan
Ketika matahari bersinar dengan terangnya
Dan aku berjalan
Terus berjalan
Seiring detak jarum jam yang merayap perlahan
Saat aku melewati sebuah persimpangan
Aku melihat sebuah sinar yang teramat indah
Yang aku pikir mampu menerangi hidupku
Tetapi ketika aku mendekat
Yang aku temukan hanyalah sebongkah batu
Yang bahkan tak bisa menjawab “ya “ atau “tidak”
Yang aku temukan hanyalah sebuah pelita redup
Yang bahkan tak mampu menerangi dirinya sendiri
Aku kecewa?
Jelas aku kecewa
Tapi yang paling mengecewakan
Ternyata aku masih dalam kegelapan





Di tengah malam tanpa cahaya bulan
Aku terbangun seorang diri
Kulihat keluar jendela
Bintang masih berkedip sayup
Langit pun masih gelap
Tapi ku tahu, hatiku sudah tak sama lagi
Karena ku tahu
Yang paling berarti untukmu
Ternyata bukan aku
Keyakinan kecil seperti itu kugengggam erat di hatiku
Sampai kutahu
Kau memang bukan takdirku



Persimpangan

Aku berada di persimpangan
Aku berjalan tanpa tahu arah
Kadang duka menghampiriku
Kadang suka..
Aku berjalan lagi
Kemudian cinta mendatangiku
Kemudian ia pergi
Dan digantikan oleh luka
Kini aku berada di persimpangan lagi
Bimbang...
Jalan mana yang harus aku pilih?
Atau mungkin..
Aku hanya harus menunggu
Seseorang untuk menjemput hatiku?



Batu pijakan (2)

Jangan salahkan aku bila menggodamu
Jangan salahkan aku bila menyukaimu
Aku hanya ingin mengisi ruang hatiku yang hampa
Aku memang tak tahu apa yang aku perbuat
Karena aku hanya ingin membuang rasa sepiku
Aku tak ingin ada yang tersakiti
Aku tak ingin ada yang terluka
Untuk itu aku mencoba mencari batu pijakan
Yang bisa membuatku melompat lebih tinggi
Melewati semua masa laluku
Dan aku bangga telah mengenalmu



Aku ingin mencintaimu sesederhana mungkin
Seperti kata-kata yang tak pernah terucapkan
Oleh bara api ketika membakar kayu menjadi abu
Aku ingin mencintaimu sesederhana mungkin
Seperti halnya kegelapan dimalam hari
Yang melindungimu dari kelelahan siang



Siapa yang akan menyangka
Bahwa kau adalah bagian dari sebuah mimpi
Dan kini tampaknya
Semua cahaya pergi menghilang
Sekarang orang berkata
Kebahagiaan adalah suatu jalan
Yang panjang untuk dicari
Yang ku tahu hanyalah
Sulit meninggalkan cintamu

halaman 5

Sahabat

Bila malam mulai menanti
Bila angin mengalunkan nada indah
Bila bulan bersinar redup
Saatlah tiba kumerindukanmu
Kuingin jumpa denganmu
Selalu teringat akan memori kita
Kenangan kita yang takkan pernah hilang dalam anganku

Aku selalu menantimu sahabat
Kapan kau hadir kembali untukku?
Kapan kau alunkan lagu-lagu indah untukku
Dan kapan jua kita bersenda gurau
Sahabat, aku sangat merindukanmu
Rindu yang tak pernah ada batasnya
Rindu yang selalu bersemai dalam hati
Yang takkan pudar untuk selamanya

Kini kehidupanku serasa mati
Aku sesak dengan kehidupan yang hampa ini
Kedukaan selalu menghimpit diriku
Yang ada hanyalah rasa bosan
Karena kau tak pernah menjumpai diriku lagi


Dinginnya hembusan angin malam
Yang menusuk kulit tak kurasakan
Pekatnya malam yang mencekam
Tak menggetarkanku
Kau pikir aku mati rasa?
Bukan..
Mungkin ini hanya karena
Kau berada di sampingku



Kehadiranku

Saat ku berada di hadapanmu
Jantungku berdebar keras
Saat kau tatap mataku
Tubuhku kaku seketika
Sebenarnya apa yang kurasa?
Apa ini cinta?
Tetapi aku tak mungkin mencintaimu
Karena..
Apa yang akan terjadi pada seseorang
Yang menanti kehadiranmu di sana?



Kau rasuki jiwaku
Kau racuni pikiranku
Dan sungguh..
Kau hanya setetes dosa
Yang mengalir dalam darahku



Luluh

Luluh hati seketika
Melihat pancaran sinar matamu
Yang tajam menatap diri ini
Tajamnya tatapanmu
Membuat segenap hati
Terhanyut dalam surga cinta
Yang entah seperti apa keadaannya
Terbuai dalam pelukmu
Yang ada dalam khayalku
Ketika luluh hati menatapmu



Dikesunyian malam yang mencekam
Kurebahkan tubuhku di pembaringan
Kucoba tuk memejamkan mata
Namun..
Bayangmu yang menjelma
Saat kau tatap wajahku
Tak menentu isi hatiku
Sorot matamu begitu tajam
Membuat debar jantungku
Aku tak tahu..
Dan tak tahu mengapa ini harus terjadi
Dan debar apa yang ada di jantung ini?
Padahal aku sadar dan mengerti
Semua ini takkan mungkin terjadi
Meski kucoba untuk menanggapi
Karena kau telah ada yang memiliki

halaman 4

Aku bagai bintang tak bercahaya
Orang takkan bisa melihat keindahanku
Bukan..
Bukan karena awan mendung yang menutupiku
Tapi..
Aku hanya tak ingin orang terlalu memperhatikanku
Agar aku bisa menyendiri
Dan merenungi jalan yang telah kutempuh
Dan kekhilafan yang kulakukan
Seraya ku berbisik dalam hati
Tuhan, tolong berikan aku cahaya
Yang lebih indah dari sebelumnya
Agar aku menjadi orang yang lebih baik
Dan dapat memberi sinaran
Dan kebahagiaan untuk orang lain



Dengan setetes embun pagi
Kumulai hariku dengan penuh harapan
Semoga hari ini cinta kan menyapaku
Tetapi ternyata cinta itu membakarku
Seperti sengatan matahari siang yang menusuk kulit
Dan tanpa sadar telah melukaiku
Tapi kucoba hilangkan luka itu dengan kehangatan senja
Walau luka masih terasa
Kututup hari ini dengan malam yang indah
Dan penuh harapan
Semoga esok hari cinta kan kembali menyapaku



191088

Sembilan belas tahun yang lalu
Ibu berjuang antara hidup dan mati
Agar aku dapat menatap dunia
Dan menikmati indahnya hidup
Sembilan belas tahun yang lalu
Aku terlahir didampingi kebahagiaan
Dan sebuah harapan orang tuaku
Kini sembilan belas tahun sudah
Aku menikmati hitam putih hidup ini
Menikmati kasih orang tuaku
Tuhan..
Terima kasih untuk hidup yang berwarna
Dan orang tua yang terbaik



Kisahku

Kupikir..
Kisahku akan berakhir
Di ujung tombak sang malaikat maut
Tapi ternyata..
Kisahku hanya berakhir
Di antara bayang-bayang masa lalu



I love you..

Like a flower loves spring
I love you..
Like a bird loves freedom
But I hate you..
Because i love you



Berkacalah di depan cermin
Kau pikir siapa dirimu?
Kau perlakukanku begitu keji
Sehina itukah aku?
Dan jika aku boleh memilih
Aku akan memilih
Untuk tidak mencintaimu
Atau mungkin..
Aku malah memilih
Untuk tidak mengenalmu sama sekali

halaman 3

Batu Pijakan

Jangan pernah bersedih
Karena kau terlalu mencintaiku
Jangan pernah bersedih
Karena kau merasa kehilanganku
Jangan pernah bersedih
Karena kau tak sanggup melupakanku
Maka jangan bersedih
Saat aku meninggalkanmu

Dan ingatlah waktu-waktu terbaik
Yang pernah kita lalui
Maka kau akan bangga
Karena telah mengenalku
Karena aku hanyalah batu pijakan bagimu
Saat kau ingin melompat lebih tinggi



Nama, wajah, dan tingkahmu
Terus menari indah di pikiranku
Bayangmu selalu menghantuiku
Tapi mengapa hati ini tetap mengingkarinya
Tak menginginkannya


Semakin aku memikirkannya
Semakin aku membenci saat-saat ini
Semakin lama kumemandangnya
Semakin kuharap dapat membencinya
Tapi hati ini pun tak kuasa melakukannya



Diriku sekokoh batu karang
Berdiri tegak
Tapi tak ada yang tahu
Bahwa batu karang ini amat rapuh
Kapan pun diriku bisa hancur
Hanya dengan ombak kecil
Tapi semua itu kututupi dengan ketegaranku
Dengan dinding yang terlihat kokoh
Hanya terlihat kokoh



Khilafku

Sesaat, ku terhenti….
“Allah, apa yang telah kulakukan hari ini?”
Tanpa kusadari
Kubuang semua waktu yang kau beri
Sesal diri ini
Ku hanya bisa meratapi diri
Sepi sendiri
Ku anggap waktu tak berarti
Ampuni aku Allah
Ku memang manusia yang tak tahu diri
Tak pernah mensyukuri waktu yang kau beri
Sekarang tinggallah angan yang tak pasti
Yang kan datang menanti



Alunan nyanyian indah yang selalu kau senandungkan untukku
Kini terdengar bisu di telingaku
Semua kata manismu yang kau bisikkan
Terasa hambar tak bermakna
Tak ada lagi romantika
Karena kutahu semua dustamu



Kau buatku membumbung tinggi ke angkasa
Melayang dan terbang tak terarah
Dan kapan pun kau mampu menjatuhkanku seketika
Hingga hancur berkeping-keping



Di sini

Ku menantimu di sini
Di bawah terik mentari
Bermandi peluh
Ku menantimu di sini
Di bawah cahaya rembulan
Dan dinginnya hembusan angin malam
Ku tetap menantimu di sini
Berharap kau kan datang untukku
Dengan membawa sejuta bahagia



My happy ending

Whatever we do..
We’ll change nothing
There’s something wrong between us
About our friendship..
And in the end..
Will I ever get my happy ending?

halaman 2

Maaf Ayah, Doaku Lain

Malam ini ayah menyuruhku berdoa
Agar Tuhan memberi kami hidup yang mudah
Tapi aku malu pada diriku, juga pada-Mu

Lalu tak seperti yang ayah kira
Malam ini aku berdoa
“Tuhan, jangan berikan kami jalan hidup yang mudah,
tapi jadikanlah kami orang-orang yang kuat menjalani hidup”



Membakar Surga

“Berikan aku sebuah obor dan seember air!”
Teriakku malam itu
Dengan obor itu aku akan membakar surga
Dan dengan seember air itu aku akan menyiram api neraka

Aku ingin melakukannya jika aku mampu
Agar aku bisa benar-benar menaati-Mu
Bukan karena takut akan neraka
Atau karena indahnya surga
Tapi karena aku benar-benar mencintai-Mu



Tulisanku terhenti di sini

Karena sebuah kata yang kucari ternyata tak ada
Meski sudah berkali-kali kucari dan kuteliti dalam setiap lembar kamus
Namun memang tidak ada

Lalu kebisuan hinggap di ujung penaku yang membeku
Ternyata keindahan-Mu sama sekali tak bisa kucairkan lewat kata.



Sepi

Riuh gelak canda kurcaci-kurcaci kecil tak membuatku tertawa
Obrolan-obrolan yang terdengar tak membuatku ingin berbicara sepatah kata pun
Gemerlap pesta tak membuatku nyaman
Ini justru membuatku merasa sendiri
Yah, aku merasa sepi di tengah keramaian
Seolah aku tak peduli pada mereka
Dan sepertinya mereka pun tak akan peduli padaku..



Inginku

Aku ingin menjadi hembusan angin
Yang bertiup menyentuh rumput di padang ilalang
Aku ingin menjadi seekor burung
Yang terbang melintasi bentang langit biru
Aku ingin menjadi seberkas cahaya
Yang melesat jauh ke angkasa
Dan menuju ke tempatmu berada bintangku..



Puisiku

Malam ini kucoba buatkan puisi indah untukmu
Kau yang hingga kini masih menjadi misteri hidupku
Namun..
Mengapa ketika kumulai menulis puisi itu
Hanya kebisuan..
Yang hinggap di ujung penaku
Hanya kehampaan..
Yang ada dalam pikiranku
Kini aku sadari..
Cintaku padamu tak bisa dilukiskan puisi
Biarlah..
Hanya aku saja yang tahu
Seberapa indah cintaku padamu



Menyesal

Saat hati ini beku merelakan cintaku yang berlalu
Saat kucoba mulai berdiri lagi dari semua derita yang aku hadapi
Menyesal rasanya hati ini mengenalmu
Yang hanya bisa menorehkan luka di hati
Andai aku tahu semua akan begini
Takkan pernah aku mencintaimu
Tapi semua telah terjadi
Kini..tinggallah aku sendiri
Menjalani semua kisah yang kulalui



Terima Kasih

Terima kasih..
Atas semua cinta
Yang pernah kau beri
Terima kasih..
Atas semua perhatian
Yang telah kau beri
Tapi yakinlah..
Kau tetap yang terindah
Hanya kau yang bisa buatku bahagia
Dan hanya kau
Yang bisa buatku terluka
Dan semoga saja..
Langkah yang telah tertempuh saat ini menjadi penyejuk hati kita
Dan takkan ada lagi perdebatan yang panjang



Mengapa Menangis?

Mengapa harus ada kesedihan
Dan air mata ketika kau pergi?
Jika setiap yang datang memang harus pergi
Dan setiap yang pergi belum tentu kembali
Aku mengerti semua itu..
Tapi…
Mengapa aku tetap saja menangis?

halaman 1

Hari esok ada atau tiada

Waktu terus berjalan Hingga tiada yang tersisa
Sesuatu yang ada
Mungkin tiada
Hidup yang diawali kebahagiaan
Mungkin akan berakhir dengan seketika



Ketiadaan..

Hanya membuat orang yang ditinggalkan
Mengingat kenangan terindah bersamanya
Waktu akan terus berjalan
Sehingga kenangan cepat berlalu dan terlupa
Akhir waktu hanya ingin mengukir kenangan



Hatiku

Ketika masalah datang, dia selalu ada
Kupendam selalu kupendam
Walau itu sangat membebaniku
Tentang hilang
Itulah yang kurasa sesaat



Ketika kumenangis

Masalah yang kupendam kurasakan kembali
Beban..beban..
Itu yang kurasa
Sesak dadaku bila ingat kembali



Kepergianmu

Angin yang berhembus menurut hati
Apa rasaku tak kau pahami
Kau selalu hilang dalam titik cahaya
Terbawa ke dalam sungai cinta
Kau selalu merasuk ke dalam bayangan semuku
Hingga selalu ada cinta untuk cahaya cintamu
Kini setelah cahaya cintaku mengalir deras
Kau pergi..
Dalam arus cinta sang dewi malam



Nyawa hidupku

Engkau hadir dalam hidupku
Di saat aku merasakan kehampaan
Engkau terangi jiwaku
Di saat aku berada dalam kegelapan



Kau sejukkan hatiku

Di saat hati ini sedang gundah
Hanya Engkaulah
Yang dapat membuatku merasakan
Apa yang seharusya kurasakan dalam hidup ini

Karena Engkaulah hidupku indah
Dan karena Engkaulah hidupku penuh makna
Terima kasih Tuhanku..


Air mata

Setiap satu tetes airmataku
Mengundang seribu makna
Mengundang seribu misteri
Mempunyai berjuta tanya

Airmataku terus dan terus mengalir
Seperti sungai yang mengalir dengan tenang
Menuju samudera

Haruskah kumenangisi kepergianmu
Mengangisi ketiadaanmu
Yang telah menggores hati ini
Mengguncang jiwaku
Hingga hidupku merana
Tanpa cintamu di sisiku

Mengapa kau meninggalkanku
Setelah kuukir namamu di hatiku
Kini yang kau tinggalkan
Hanya tangis dan airmata
Dan segudang kenangan tentangmu