28 Juni, 2008

Berkorban Demi Cinta

Berkorban Demi Cinta: Haruskah?
Konon, cewek mengklaim dirinya sebagai pihak yang paling
banyak berkorban untuk pria. Sementara, banyak pula arjuna
yang merasa telah "berkorban" dan telaten merawat cintanya.

Terlepas dari pihak mana yang paling banyak berkorban,
psikoterapis Dr. Laura Schlessinger, di Los Angeles, AS,
menilai "berkorban" adalah hal terbodoh yang dilakukan orang.

Tentu, Schlessinger tak bermaksud mengajak kita untuk menjadi

orang egois, dan tak pedulian. Buktinya, dia menyarankan kita
untuk tetap bersabar dan menjunjung tinggi toleransi.

Seimbang
Konon pula, wanita memiliki kadar toleransi dan kesabaran
yang lebih tinggi dibanding pria. Mungkin itulah sebabnya,
wanita menjadi pihak yang lebih banyak berkorban atau mengalah.

Nyatanya, "Banyak wanita yang merasa harus berkorban.
Bahkan, tak sedikit wanita merasa bahagia atas pengorbanannya.
Padahal, kondisi itu, jauh dari sebuah hubungan sehat."

Padahal, kebahagiaan sejati itu hanya bisa diperoleh jika
ada keseimbangan. "Jadi, bukan hanya wanita saja atau pria saja
yang harus berkorban. Tapi harus dua-duanya."

Dalam porsi tertentu, berkorban atau mengalah akan sangat
membantu sebuah hubungan. Tapi bila dibiarkan terus-terusan,
kondisi itu bisa terbalik menjadi bom waktu, yang siap meledak kapan saja.

Jadi, jangan pernah takut untuk menegosiasikan setiap kondisi
atau masalah yang dihadapi. Hal itu bisa menjadi pelajaran toleransi
bagi pasangan, dan pelajaran otorisasi bagi Anda.
Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar: